Di kala hati membeku dan enggan dengan hangatnya mentari pagi
tak dapat membentuk pusaran dengan sebilah kayu rapuh
meronta-ronta dalam penjara hati,
terbelenggu Dosa nestapa hingga isak tangis tak lagi mengeluarkan air mata
Terpadu “emosi” dalam lingkar logika tak terkendali
Sulit diri mencoba tuk meraih suci tertinggi dalam situasi
Mata, telinga, dan indera yang lain seperti tak berfungsi untuk diri
Tak pernah lelah diri ini menyambut “bulan” yang hanya datang pada saat langit terlihat gelap
pekat,
pada saat Matahari berpaling dihadapan,
pada saat burung-burung kembali kesangkarnya
Tak kan pernah lelah diri ini menyambut,
walaupun terkadang “Bulan” itu tak tampak,
karena tertutup awan kelabu.
Terbesit hati kecewa, tapi apa daya hanya bisa menunggu awan kelam itu pergi dan
memperlihatkan “Bulan” di langit yang nampak indah mempesona dengan bias sinarnya
tak dapat membentuk pusaran dengan sebilah kayu rapuh
meronta-ronta dalam penjara hati,
terbelenggu Dosa nestapa hingga isak tangis tak lagi mengeluarkan air mata
Terpadu “emosi” dalam lingkar logika tak terkendali
Sulit diri mencoba tuk meraih suci tertinggi dalam situasi
Mata, telinga, dan indera yang lain seperti tak berfungsi untuk diri
Tak pernah lelah diri ini menyambut “bulan” yang hanya datang pada saat langit terlihat gelap
pekat,
pada saat Matahari berpaling dihadapan,
pada saat burung-burung kembali kesangkarnya
Tak kan pernah lelah diri ini menyambut,
walaupun terkadang “Bulan” itu tak tampak,
karena tertutup awan kelabu.
Terbesit hati kecewa, tapi apa daya hanya bisa menunggu awan kelam itu pergi dan
memperlihatkan “Bulan” di langit yang nampak indah mempesona dengan bias sinarnya
No comments:
Post a Comment