Monday, January 16, 2012

Egosentris melemah

Di kala hati membeku dan enggan dengan hangatnya mentari pagi

tak dapat membentuk pusaran dengan sebilah kayu rapuh

meronta-ronta dalam penjara hati,

terbelenggu Dosa nestapa hingga isak tangis tak lagi mengeluarkan air mata

Terpadu “emosi” dalam lingkar logika tak terkendali

Sulit diri mencoba tuk meraih suci tertinggi dalam situasi

Mata, telinga, dan indera yang lain seperti tak berfungsi untuk diri

Tak pernah lelah diri ini menyambut “bulan” yang hanya datang pada saat langit terlihat gelap

pekat,

pada saat Matahari berpaling dihadapan,

pada saat burung-burung kembali kesangkarnya

Tak kan pernah lelah diri ini menyambut,

walaupun terkadang “Bulan” itu tak tampak,

karena tertutup awan kelabu.

Terbesit hati kecewa, tapi apa daya hanya bisa menunggu awan kelam itu pergi dan

memperlihatkan “Bulan” di langit yang nampak indah mempesona dengan bias sinarnya

No comments:

Post a Comment